Israel VS Irak: Strategi, Kepentingan, Dan Pengaruh Internasional

Israel VS Irak: Strategi, Kepentingan, Dan Pengaruh Internasional

Israel VS Irak lebih tepat di pahami sebagai bagian dari persaingan geopolitik Timur Tengah daripada perang bilateral sederhana. Israel berusaha menghadapi jaringan ancaman yang di anggap berkaitan dengan Iran, sedangkan Irak berupaya mempertahankan stabilitas dan kedaulatannya di tengah tekanan berbagai kekuatan.

Israel selama bertahun-tahun membangun strategi keamanan yang menekankan kemampuan militer, intelijen, pertahanan udara, serta pencegahan terhadap ancaman dari negara dan kelompok bersenjata di kawasan. Dalam konteks Irak, perhatian Israel terutama berkaitan dengan keberadaan kelompok yang memiliki hubungan dekat dengan Iran.

Sejumlah milisi Irak yang tergabung dalam jaringan Islamic Resistance in Iraq memiliki kemampuan menggunakan drone dan rudal. Menurut analisis Institute for National Security Studies, kelompok-kelompok pro-Iran di Irak mengklaim bertanggung jawab atas ratusan serangan menggunakan rudal dan drone terhadap berbagai target selama perang 2026, termasuk target di Israel.

Sementara itu, pemerintah Irak menghadapi persoalan yang berbeda. Baghdad berusaha mempertahankan kedaulatan negara sekaligus mencegah wilayahnya menjadi medan perang antara kekuatan regional. Persoalan tersebut semakin sulit karena sejumlah kelompok bersenjata memiliki kekuatan politik dan militer yang cukup besar.

Kepentingan Israel VS Irak Dan Amerika Serikat

Untuk memahami ketegangan Israel VS Irak, peran Iran tidak dapat di lepaskan. Teheran memiliki hubungan erat dengan sejumlah kelompok politik dan milisi Syiah di Irak. Jaringan tersebut memberikan Iran pengaruh strategis yang besar sekaligus menjadi salah satu sarana untuk menghadapi tekanan dari Israel dan Amerika Serikat.

Perang yang berlangsung pada 2026 membuat posisi Irak semakin sulit. Sejumlah kelompok bersenjata yang di dukung Iran menggunakan wilayah Irak sebagai bagian dari aktivitas regional mereka. Pemerintah Baghdad kemudian mendapatkan tekanan untuk mengendalikan atau melucuti kelompok-kelompok tersebut.

Amerika Serikat juga memiliki kepentingan besar di Irak. Washington ingin menjaga stabilitas kawasan sekaligus mencegah kelompok yang dekat dengan Iran melakukan serangan terhadap pasukan atau kepentingan Amerika. Pada Juli 2026, Amerika Serikat dan Arab Saudi bahkan melakukan serangan terhadap kelompok yang di dukung Iran di Irak setelah muncul tuduhan mengenai serangan drone terhadap fasilitas minyak Saudi.

Bagi Baghdad, perkembangan tersebut menjadi persoalan kedaulatan. Irak harus menjaga hubungan dengan Washington tanpa memutus hubungan dengan Teheran. Pada saat yang sama, pemerintah harus mencegah konflik eksternal berubah menjadi konflik internal.

Pengaruh Internasional Dan Masa Depan Kawasan

Ketegangan yang melibatkan Israel, Irak, dan Iran memiliki dampak jauh lebih luas daripada persoalan militer. Timur Tengah merupakan kawasan strategis bagi perdagangan energi dunia. Gangguan keamanan dapat memengaruhi harga minyak, jalur pelayaran, investasi, dan stabilitas ekonomi internasional.

Irak sendiri sedang berusaha mengurangi ketergantungannya terhadap jalur ekspor yang rentan akibat konflik regional. Pada Agustus 2026, pemerintah Irak menyampaikan rencana meningkatkan produksi minyak menjadi sekitar 8–10 juta barel per hari dalam enam tahun serta mengembangkan jalur ekspor melalui Turki, Suriah, dan Yordania. Strategi tersebut antara lain di maksudkan untuk mengurangi ketergantungan terhadap Selat Hormuz yang terganggu akibat konflik.

Di tingkat politik, perkembangan ini juga menunjukkan perubahan keseimbangan kekuatan di Timur Tengah. Negara-negara kawasan semakin berusaha menentukan posisi sendiri di tengah persaingan Amerika Serikat, Israel, dan Iran. Irak berada di posisi yang sangat strategis karena letaknya menghubungkan kawasan Teluk, Iran, Suriah, dan Levant.

Ke depan, kemampuan pemerintah Irak mengendalikan kelompok bersenjata akan menjadi salah satu faktor penting. Pemerintah telah mendorong proses pelucutan senjata sejumlah kelompok, tetapi faksi-faksi kuat seperti Kataib Hezbollah masih menolak langkah tersebut Israel VS Irak.